Ikhlas itu Berat

Selasa, Februari 05, 2008 with 0 komentar »

Menerima sesuatu tentu lebih mudah dibandingkan memberi. Seperti itu pula sebuah pepatah mengatakan “tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”. Berada di posisi “diatas” berkonotasi kepada yang lebih mulia. Maka mulialah orang-orang yang senantiasa membiasakan diri untuk memberi. Memberi sesuatu kepada orang lain adalah sesuatu yang berat. Sementara dalam keseharian kita senantiasa dituntut untuk memberi. Baik dari sudut tuntunan agama, maupun pertimbangan tuntutan hidup sosial.

Memberi sesuatu kepada orang lain bisa berupa apa saja. Harta benda, jasa, atau sekedar senyum tulus, dsb. Suatu agama atau keyakinan senantiasa menganjurkan penganutnya untuk memberi sebagai salah satu bentuk ibadah atau darma dan pengabdian. Memberi sesuatu kepada orang lain juga merupakan salah satu cara membangun jaringan hablun minal annas dan menciptakan silaturrahim. Memberi menjadi suatu penyeimbang dalam kehidupan sosial secara moril maupun materiil.

Bersedekah, berinfaq, berzakat, memberi hadiah dan bantuan jasa adalah varietas wujud dari memberi. Sukarela, tulus, ridho, ikhlas adalah sesuatu yang harus melandasi “memberi” agar dia bernilai, baik secara sosial maupun spritual. Sehingga sebahagian orang menganggap percuma suatu pemberian jika tidak dilandasi dengan hati ikhlas.

Sebenarnya bagaimanakah ikhlas itu? Jika melihat pengemis di pinggir jalan, lalu memberinya sejumlah uang atau apa saja yang ada pada kita atas dasar rasa iba dan kasihan misalnya. Itu masih sangat manusiawi. Dan belum tentu masuk kategori ikhlas. Memang terkadang kita mengenal ‘ikhlas’ atau kerelaan hati sebagai wujud cerminan dari rasa iba atau kasihan. Pernahkah kita memberi sesuatu kepada seseorang tanpa harus tahu kita kasihan atau tidak? May be yes..,may be not!

Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa memberi sesuatu lantaran adanya sebab, seperti kasihan, prihatin, iba dsb, itu belum bisa dikategorikan sebagai ikhlas. Namun tidak lebih sebagai suatu bentuk kerelaan atau ketulusan hati saja yang bisa menjadi sebagai pemuasan hawa nafsu ego kasihan atau ego iba kita. Namun memberi atas dasar rasa kasihan atau iba pun itu sudah cukup baik. Terlebih lagi jika kita bisa berlaku ikhlas.

Berlaku ikhlas memang berat. Jika dalam memberi sesuatu masih mudah, ringan dan enteng berarti kita belum masuk dalam kategori ikhlas tapi baru sekedar rela atau tulus. Dalam memberi sesuatu kepada orang lain terkadang muncul rasa berat dalam hati kita karena berbagai faktor dan alasan. Alasan itu bisa disebabkan kurangnya biaya hidup, Tanggal tua, Lagi membutuhkan. Namun tetap saja mencoba menyisihkan untuk memberi meskipun sedikit karena dilandasi semata-mata atas nama Tuhan. Dan rasa berat itu kita ikhlas-kan meskipun masih terkesan disabar-sabarkan. Inilah yang lebih dimaksudkan sebagai ikhlas. Sekali lagi karena dia berat.

Ada perbedaan antara ikhlas dan tulus. Ikhlas itu, merelakan sesuatu yang terasa berat. Tulus itu adalah kerelaan hati karena faktor adanya rasa senang atau tidak ada beban. Ikhlas memiliki kedudukan atau derajat yang tinggi di mata Tuhan. Sehingga salah-lah orang yang mengatakan: percuma saja melakukan ini-itu jika tidak ikhlas. Persepsi orang selama ini terbalik, jika orang terlihat berat membantu atau memberi sesuatu disebut ‘tidak ikhlas’ dan begitu pula sebaliknya. Berbuat ikhlas meskipun berat, seorang mukhlis senantiasa dilandasi dengan nama Sang Maha Pencipta.

Ikhlas merupakan solusi positif menghadapi kondisi bangsa yang carut marut oleh berbagai bencana, yang diakibatkan oleh campur tangan manusia sendiri ini. Melalui bencana ini pun kita masih digebleng oleh Tuhan untuk menjadi orang yang ikhlas dalam menerima segalanya. Termasuk di dalamnya ikhlas memberi bantuan kepada korban banjir misalnya. Bencana pada bangsa ini telah membuka lebar bagi penduduknya untuk berlaku ikhlas. Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

AIR WUDHU

Selasa, Januari 22, 2008 with 0 komentar »

Sejak dulu, mungkin di antara kita telah pernah melihat orang-orang “pintar”, yang menggunakan air putih untuk mengobati berbagai macam penyakit. Yang mengherankan. Mereka hanya meniup air itu setelah menjampi-jampinya. Lalu si pasien akan disuruh untuk meminumnya atau mengusapkan pada daerah yang sakit. Dan tidak jarang seorang pasien akan sembuh. Praktik seperti ini masih ada sampai saat ini. Kekuatan besar apakah sebenarnya yang telah berlaku pada kondisi seperti itu. Aneh bin ajaib. Yang pasti, orang yang mampu melakukannya saat itu pasti sangat dihormati dan sudah dianggap sakti, mumpuni, bertuah, keramat, dsb.

Andai saja seorang Masaru Emoto tidak menghasilkan sebuah karya besar yang mampu membongkar rahasia air secara ilmiah dalam penelitiannya yang tertuang didalam berbagai bukunya dan sudah tersebar best seller di seluruh dunia itu, maka tentulah masih banyak orang yang mengganggap praktik pengobatan dengan cara konvensional seperti itu, dengan jalan menjampi-jampi air adalah suatu pekerjaan takhayul, khurafat, syirik, pembodohan dsb. Bagaimana tidak, metode pengobatan konvensional itu dalam praktiknya menggunakan berbagai macam bahasa dalam menjampi-jampi. Katakanlah itu mantra. Ada yang menggunakan bahasa daerah. Ada yang menggunakan bahasa arab dan penggalan dari ayat-ayat suci. Termasuk hanya menuliskan huruf-huruf arab kemudian dicelup dalam air. Dan saat itu belum ada penjelasan ilmiah sampai akhirnya datang penemuan yang dilakukan oleh DR. Masaru Emoto.

Dalam berbagai buku karangan Masaru Emoto, semua bukunya membahas mengenai rahasia-rahasia dan kekuatan yang ada pada air. Peneliti Jepang ini pun kemudian menghasilkan sebuah temuan yang sangat sensasional, yakni bahwa partikel-partikel air dapat merespon, memahami, menangkap segala jenis bentuk komunikasi, gelombang, sinyal, energi segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Termasuk memahami dan merespon perkataan, pancaran energi, bahasa hati, emosi manusia. Dalam penelitiannya itu, dia meneliti bentuk respon partikel air dengan menggunakan miskroskop mikro elektron yang sebelumnya air sudah dibekukan pada temperatur tertentu.

Sejumlah air yang diberikan perlakukan yang berbeda memberikan respon yang berbeda pula. Itu dapat kita lihat melalui perubahan bentuk yang di berikan oleh partikel air itu. Perlakuan yang baik terhadap air termasuk berkata-kata indah atau menempelkan suatu kata-kata indah disekitarnya akan menghasilkan bentuk partikel air yang indah pula. Begitupula sebaliknya. Dalam percobaanya, Masaru Emoto juga mencoba melakukan hal yang sama dengan berbagai macam bahasa. Dan hasilnya pun sama. Sehingga dapat dikatakan bahwa air dapat memahami pula segala jenis bahasa.

Dalam Al-Qur’an, jauh sebelumnya sudah mengabarkan kepada kita rahasia itu bahwa:

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S: Al-Hasyr ayat 24).

Bertasbih setiap makhluk yang berada di langit dan di bumi mengindikasikan apapun yang berada diataranya (langit dan bumi) adalah sesuatu yang hidup termasuk diantaranya batu, tanah, udara, api dan air karena kesemuanya bertasbih kepada Allah SWT. Berangkat dari itu, tentu saja dapat membuka pikiran kita akan esensi kehidupan suatu benda yang selama ini kita anggap sebagai benda mati.

Sebagai manusia, tubuh kita mengandung 70% unsur air. Ini berarti diri kita sangat sensitif untuk menjadi keruh, karena pengaruh lingkungan disekitar kita. air-air tubuh kita dapat cepat merespon segala bentuk energi. Termasuk energi-energi negatif yang muncul di tengah-tengah kesibukan kita sehari-hari. air-air tubuh kita dapat cepat berubah jika senantiasa berada diantara orang-orang yang memiliki energi-energi negatif. Maka sejak dini perlu bagi kita untuk mengurangi bergaul dengan orang-orang yang selalu marah, buruk sangka, hasud, dsb. Karena air tubuh kita dapat cepat merespon energi negatif itu sehingga kita pun bisa saja menjadi orang yang memiliki sifat yang seperti itu. Tentu kita semua tak ingin itu terjadi. Dan di era seperti saat ini sangatlah sulit untuk menghindari orang yang memiliki air-air tubuh yang keruh.

Patut bagi kita bersyukur bahwa jauh sebelumnya Islam telah melindungi diri kita dari hal-hal yang demikian. Ajaran Islam telah melakukan proteksi melalui ritual air wudhu setiap waktu - waktu menjalankan ibadah shalat. Air wudhu kita menjadi pembersih yang baik setiap saat. Air wudhu yang meresap masuk ke dalam tubuh kita akan mempengaruhi dan memperbaiki air-air tubuh kita yang sempat menjadi keruh dalam aktinvitas sehari-hari. Bagaimana tidak, kita selalu melakukan wudhu lima kali sehari. ini berarti, kita senantiasa memperbaharui air-air tubuh kita sebanyak itu pula. Apalagi setiap kali berwudhu kita diajarkan untuk senantiasa berdoa dan membaca atas nama Allah SWT. Ini akan menjadi semacam mantra ampuh yang dapat merubah struktur air yang akan diusapkan ke tubuh kita, agar dapat menjadi pembersih yang baik lagi pula suci. Apalagi mantra yang kita baca, adalah doa yang bersumber dari pemilik Sang Air. Masya Allah.

Lalu Siapa Yang Sesat

Senin, Desember 17, 2007 with 1 komentar »

Eufhoria beragama sepertinya semakin meluap di era kekinian, hampir-hampir atau paling tidak, seimbang dengan eufhoria politik bangsa kita yang meledak-ledak akhir-akhir ini. Dan tentunya tidak sedikit menciptakan ketidakstabilan nasional serta konflik public yang cenderung brutal. Tak dapat dipungkiri kecenderungan ini juga terjadi pada hal yang berbau agama, keyakinan atau spritualitas. Ini dapat kita lihat pada ekses bermuculannya ajaran-ajaran baru yang telah dianggap sesat oleh sebahagian orang, terutama dalam tubuh Islam.
Persoalannya kemudian bahwa ajaran-ajaran yang dianggap sesat ini menciptakan ‘riak keruh’ di dalam Islam yang menurut sebagian ulama dapat merusak sendi-sendi ajaran Islam. Sehingga mengharuskan kita menuntut para pengikut ajaran sesat ini untuk bertobat dan kalau perlu dipenjarakan saja.

Sejenak jika kita cermati dengan seksama, persoalan ini sebernarnya tidaklah begitu membahayakan jika dibandingkan dengan para pelaku-pelaku politik yang nakal di kancah politik bangsa ini. Kenapa begitu, diperlukan kedewasaan yang tinggi dalam memandang persolan ini secermat mungkin, agar ‘riak keruh’ ini tidak perlu ada jika kita merasa orang yang islami dan konon kabarnya Rahmatan lil alamin.

Ada baiknya kita tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain termasuk menyuruh bertobat hanya karena berbeda keyakinan dengan kita, berbeda faham, berbeda penafsiran. berbeda tarikah, Apalagi sampai memenjarakannya. Dalam hal ini biarkan Tuhan yang menilai dan menghakimi karena sesungguhnya menghakimi bukan hak manusia. Tentunya kita tak ingin nenganggap diri kita Tuhan. Tanpa kita sadari, sebenarnya kitalah yang telah berlaku sesat.
Mari sama-sama kita renungkan bahwa selama ajaran itu tidak mengajarkan kesesatan asasi misalnya membunuh, memperkosa, membahayakan jiwa seseorang dalam ritualnya atau apalah itu yang bisa merugikan agama secara langsung, maka tidak perlu memperlakukan mereka secara berlebihan.
Bukankah perbedaan itu Rahmah, berkah. Dan itu tak dapat kita hindari. Semakin kita berbeda semakin besar Rahmat itu datang. Dan semakin kuat keyakinan kita terhadap apa yang telah kita yakini. Ironinya munculnya ajaran-ajaran baru akhir-akhir ini dengan terburu-buru kita cap sesat karena bertentangan dengan keyakinan mayoritas. Yakni keyakinan kita. Padahal itu belum tentu.
Perlu diluruskan bahwa Agama yang selalu kita sebut Agama seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha dsb..itu, kenyataanya hanyalah konsep seperti sebuah Biro yang membedakan keyakinan yang satu dengan keyakinan yang lainnya yang merupakan buatan manusia sendiri. Padahal Islam, Kristen Hindu, Budha yang sesungguhnya ada dalam hati kita masing-masing. Agama Allah Yang Hanif.
Kemunculan ajaran Al-Qiyadah misalnya ajarannya sangat kontroversi dengan ajaran Islam mayoritas. kemudian kita ramai-ramai menyesatkan dan memenjarakannya. Saya sempat berpikir bahwa berutunglah penganut Kristen Ortodoks tidak menamakan agamanya dengan nama Islam Ortodoks misalnya. Karena jika sepintas kita perhatikan ritual mereka mirip dengan ritual agama Islam seperti salat, wudhu, perempuannya juga berjilbab, hanya ajaran tauhid saja yang berbeda. Untung saja nama agamanya Kristen, coba namanya Islam, Isya Allah pasti sudah disesatkan, dipenjarakan, dan pengikutnya tidak akan pernah tenang.

TUHAN TIDAK ABADI

Jumat, Desember 14, 2007 with 2 komentar »

Enam puluh tiga tahun, segitulah kira-kira batas umur manusia sekarang, jika bertolak ukur dari Nabi yang terakhir yakni Nabi Muhammad SAW. Hanya sedikit saja yang dapat melampaui usia tersebut. Normalnya, memang seperti itulah jatah umur manusia belakangan yang diberikan oleh Tuhan. Meskipun begitu, ada juga segelintir manusia kekinian yang diberikan “bonus” oleh Tuhan untuk hidup lebih lama dari ukuran normal. Kira-kira seratus tahun lebih. Namun itu hanya sedikit.
Manusia sekarang yang mencapai seratus tahun kehidupanya di dunia, pastilah sudah sedemikian renta dan begitu jompo. Beberapa atribut tambahan telah melekat pada dirinya. Tongkat berjalan misalnya, alat bantu dengar, kacamata tebal, tidak sedikit yang hanya bisa duduk diam di rumah saja. Raga telah menjadi habitat penyakit. Jika bisa memilih. Tak ada yang ingin hidup di fase ini. Menjadi lansia memang sangatlah menyiksa. Termasuk bagi orang-orang sekitarnya.
Rekor hidup paling lama di era manusia terjadi pada zaman nabi Nuh. Yakni hidup sampai seribu-an tahun. Usia 100 tahun pada masa itu, tentulah masih sangat belia. Dan yang pasti usia selama itu tetap saja usia yang singkat dimasanya. Ini berarti, berapapun usia manusia toh sudah digariskan menjadi makhluk yang fana, makhluk sementara, makhluk sebentar. Dan tidak abadi.
Jauh sebelum manusia lahir, telah menanti Bumi, langit semesta beserta isinya. Usianya sudah sedemikian bertuah ketika manusia muncul di muka bumi. Bisa beribu-ribu tahun. Bahkan mungkin berjuta-juta tahun yang lalu. Bumi, langit beserta isinya termasuk makhluk yang Qadim, hidup lama. Namun pada akhirnya dia tetap saja akan hancur ketika tiba saat dimana Malaikat Izrafil meniupkan sangkakala di akhir zaman. Segalanya hancur dan musnah. Berarti semesta ini, meskipun qadim namun tetap saja tidak abadi.
Setelah semua makhluk dibangkitkan kembali termasuk di dalamnya para Malaikat A.S, Surga dan Neraka, Jin dan Manusia. Kebangkitan ini menjadikan semua makhluk ini baharu. Hawadits. Ini sudah dipersiapkan Tuhan agar mereka semua hidup Abadi di kehidupan yang kedua ini. Yang jahat akan abadi di Neraka. Dan yang baik akan abadi di Surga. Dan para Malaikat A.S akan senantiasa hidup abadi mendampingi mereka. Semua hidup khālidīna fīhā. Hidup abadi di dalam surga dan neraka. Hidup khalid. Abadi.
Abadi merupakan bentuk sifat dari kata Abad. Berarti seratus tahun. Abadi mengandung arti bersifat ratusan tahun. Bisa beratus-ratus-ratus-ratus tahun lamanya. Sangat lama. Terus-menerus. Sehingga seperti tidak ada ujungnya.
Di dalam Al-Qur’an, Surga dan Neraka selalu dilekatkan dengan kata khalid untuk menunjukkan kekekalannya. Sedangkan Tuhan selalu dilekatkan dengan kata Baqa’. Baik Khalid maupun Baqa’ memiliki arti yang sama, yakni Kekal. Namun kwalitas substansi kekekalannya berbeda.
Surga dan Neraka kekal yang dikekalkan. Pernah tiada kemudian ada. Sifatnya cuma Abadi.
Sedangkan Tuhan kekal dengan sendirinya. Huwal awwal Wal Akhir. DIA-lah Yang Awal dan Yang Akhir. Semua Makhluknya Hawadist. Baharu. Dari tiada, kemudian ada, dan kembali tiada. Itu sudah menjadi Sunnah-NYA. Berlaku untuk semua makhluk. Termasuk Malaikat, Surga dan Neraka, pun tidak kekal. Dia hanya Abadi. Umurnya begitu lama, namun tetap saja akan berujung. Bukakankah Allah sudah menegaskan bahwa suatu ketika kelak semuanya akan musnah kecuali Wajah-NYA?!. Semuanya. Termasuk Surga dan Neraka.
Nah, jika demikian. Pantaskah kita mengatakan bahwa Tuhan itu abadi. Sedangkan abadi adalah sifat makhluknya. Padahal mutlak bagi Tuhan tidak menyerupai apapun. Laitsa Kamitslihi Syai’un. Maka yang pantas bagi kita semua adalah mengetahui bahwa Tuhan tidak abadi melainkan Tuhan itu KEKAL.